Apa itu Apologetika?

Januari 7, 2021
Posted in Apologetika
Januari 7, 2021 gracealone

Definisi sederhana dari apologetika Kristen adalah pembelaan terhadap iman Kristen. Namun, kesederhanaan definisi tersebut dapat mengaburkan kompleksitas dari masalah dalam mendefinisikan apologetika. Karena ternyata ada begitu banyak pendekatan yang beragam yang berupaya untuk menjelaskan arti, lingkup, serta tujuan dari apologetika.

Kata “apologetika” diambil dari kata Yunani “apologia” yang awalnya dipakai sebagai sebuah pidato pembelaan. Orang-orang di kota Athena zaman dulu mengartikannya sebagai sebuah pembelaan dalam konteks pengadilan yang lazim digunakan untuk prosedur peradilan. Setelah didakwa, sang terdakwa diizinkan untuk memberikan sanggahan terhadap tuduhan apapun yang diberikan dengan sebuah pembelaan (apologia). Contoh klasik dari sebuah apologia adalah pembelaan Sokrates terhadap tuduhan bahwa ia mengajarkan tentang ilah-ilah asing, yang mana pembelaan tersebut kemudian dikisahkan ulang oleh muridnya yang paling ternama, Plato, lewat sebuah dialog yang disebut “The Apology.”

Kata “apologia” sendiri muncul sebanyak 17 kali dalam bentuk kata benda atau kerja dalam PB. Kata ini dapat diterjemahkan sebagai “pembelaan” atau “pembenaran” dalam setiap kasusnya. Biasanya kata tersebut dapat diartikan sebagai sebuah pidato yang disampaikan sebagai pembelaan diri seseorang (Luk. 12:11; 21:14; Kis. 22:1; 24:10; 25:8, 16; 26:2, 24; 1Kor. 9:3; 2Kor. 12:19). Pemahaman yang jelas akan apologetika sebagai sebuah pembelaan rasional terhadap iman Kristen ada di Filipi 1:7, 16; dan khususnya 1 Petrus 3:15, sekalipun tidak ada teori khusus mengenai apologetika yang terperinci dalam PB.

Pada abad yang kedua, kata yang umum dipakai untuk “pembelaan” mulai menyempit artinya oleh karena ada sekelompok penulis yang membela kepercayaan dan praktek dari kekristenan terhadap berbagai serangan yang ada. Orang-orang ini dikenal sebagai para apologis berdasarkan tulisan-tulisan mereka. Namun demikian, barulah pada tahun 1974 apologetika disahkan menjadi sebuah disiplin ilmu teologis yang khusus.

Sejak saat itu, sudah sangat umum bahwa istilah apologi merujuk kepada sebuah upaya atau pekerjaan khusus dalam membela sebuah kepercayaan. Sebuah apologi dapat disampaikan melalui sebuah dokumen tertulis, pidato, bahkan film. Para apologis mengembangkan pembelaan-pembelaan mereka akan iman Kristen terhadap isu-isu yang berkaitan dengan sains, sejarah, filsafat, etika, agama, budaya, atau teologi tertentu.

  1. PEMBUKTIAN (proof). Hal ini melibatkan penyusunan dari argumen-argumen filosofis juga ilmiah serta bukti-bukti sejarah yang mendukung iman Kristen. Tujuan utamanya adalah untuk membangun sebuah argumen yang positif bagi Kekristenan sebagai sebuah sistem kepercayaan yang dapat diterima. Secara filosofis, hal ini berarti menarik implikasi-implikasi logis dari wawasan dunia Kristen supaya orang lain dapat memahami secara jelas dan membandingkannya dengan wawasan-wawasan dunia alternatif. Namun, pertanyaan berkenaan dengan kriteria mana yang tepat untuk membuktikan kebenaran iman Kristen masih menjadi perdebatan antara para penganut sistem-sistem apologetika Kristen yang berbeda-beda.
  2. PEMBELAAN (defense). Fungsi kedua ini paling dekat dengan PB dan kekristenan mula-mula yang memahami apologia sebagai pembelaan terhadap iman Kristen dari berbagai serangan dan kritikan yang diluncurkan oleh sistem kepercayaan yang berbeda lainnya. Hal ini melibatkan (a) klarifikasi terhadap posisi Kristen yang seringkali disalahpahami atau keliru disajikan; (b) menjawab pertanyaan atau kritikan dari kaum non-Kristen dan secara umum (c) membereskan kesulitan-kesulitan intelektual yang menghalangi orang-orang non-percaya untuk dapat datang kepada Kristus.
  3. PENYERANGAN (offense). Fungsi berikutnya adalah berfokus untuk menyerang atau menjawab argumen-argumen dari non-Kristen yang dipakai untuk membela kepercayaan mereka. Tentu saja penyerangan ini tidak dapat berdiri sendiri, sebab dengan membuktikan bahwa sebuah agama atau filsafat non-Kristen itu keliru tidak berarti bahwa kekristenan itu benar. Namun demikian, hal ini merupakan fungsi yang sangat esensial dalam apologetika.
  4. PERSUASI (persuasion). Hal ini tidak dimaksud untuk sekadar meyakinkan orang lain bahwa kekristenan itu benar, tetapi mendorong mereka untuk untuk mengaplikasikan kebenaran tersebut dalam hidup mereka. Hal ini berfokus untuk membawa orang-orang non-Kristen sampai pada titik komitmen mereka. Tujuan dari seorang apologis bukan hanya untuk memenangkan sebuah argumen intelektual, tetapi untuk mendorong orang lain untuk mempercayakan seluruh hidup dan masa depan mereka ke dalam genggaman tangan dari Sang Anak Allah yang telah mati bagi mereka.

/Diterjemahkan dari artikel Kenneth D. Boa, “What Is Apologetics?” dalam Apologetics Study Bible, 2012/

Tersedia juga di Instagram Apologetika Indonesia
https://www.instagram.com/p/CJvxEDehxHU/
https://www.instagram.com/p/CJ07i3PBwIR/
https://www.instagram.com/p/CJ5Ju-hBvTO/

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.