Di Manakah Allah Ketika Wabah Corona Covid-19 Merajalela?

Maret 19, 2020
Maret 19, 2020 gracealone

Setiap kali terjadi sebuah bencana, apalagi yang global, pertanyaan ini langsung menjadi bahan perdebatan, paling tidak sebagai bahan perenungan. Apakah Allah ada? Jika iya, mengapa Dia tampaknya berdiam diri saja?

Tidak ada jawaban yang mudah untuk persoalan seperti ini. Ada banyak aspek yang terkait. Ada pergumulan intelektual, finansial, sosial dan emosional di sana.

Walaupun demikian, ada beberapa poin penting yang tidak boleh kita lupakan. Yang paling penting, kita perlu memahami inti persoalan. Apakah ini tentang kematian? Mungkin tidak. Semua orang toh pada akhirnya akan mati. Apakah ini tentang kematian akibat penyakit? Mungkin juga tidak. Setiap hari banyak orang meninggalkan dunia karena penyakit, tetapi isu ini mungkin tidak akan dibahas seheboh sekarang. Bahkan beberapa penyakit terbukti lebih memakan banyak korban daripada virus Corona Covid-19. Jadi, apa yang menjadi inti persoalan? Menurut saya, area persebaran virus yang global dan angka kematian yang cukup besar pada waktu yang sangat singkat. Kita kaget melihat semua ini terjadi dalam sekejap. Kita resah karena persebarannya begitu cepat. Di manakah Allah?

Dengan memahami inti persoalan seperti di atas, kita memiliki perspektif yang lebih tajam dalam melihat situasinya. Saya sendiri melihat pandemik ini sebagai sebuah cara ilahi untuk mendatangkan kebaikan pada manusia. Wabah seperti ini memaksa manusia untuk memikirkan kehidupan dan kematian. Ini adalah bisikan ilahi yang sangat kuat di telinga kita. Selama ini ribuan kematian terjadi setiap hari di seluruh penjuru dunia, tetapi manusia cenderung tidak mempedulikannya. Semua dianggap wajar. Jarang ada yang terdorong untuk merenungkan kehidupan secara lebih serius. Ketika wabah melanda, situasi menjadi berbeda. Orang mulai peduli dengan kehidupan dan kematian. Apa yang selama ini dipandang wajar sekarang mendapat penghargaan.(quote) Contoh, apresiasi warga China dan Italia terhadap para petugas medis yang berani mengambil resiko merawat pasien Corona. Banyak orang mulai sadar untuk menjaga kesehatan dan peka terhadap keselamatan orang lain. Ada kebaikan yang dimunculkan Allah melalui situasi yang buruk ini (Rm. 8:28).

Dalam teologi kita menyebut ini sebagai “kebaikan yang lebih besar” (greater good). Maksudnya, baik atau tidaknya sesuatu perlu ditimbang dari hasil yang dirancang di baliknya. Apa yang terlihat buruk belum tentu memang buruk, kalau hal itu menghasilkan kebaikan yang melampaui “keburukannya”. Banyak contoh praktis tentang hal ini. Misalnya, orang tua mengijinkan anak untuk bersusah-payah belajar di sekolah atau berlatih untuk suatu perlombaan. Kesenangan anak mungkin terlihat dirampas, namun sebenarnya hal itu untuk kebaikan anak juga. Hasil yang diharapkan sepadan atau lebih besar daripada kesusahannya. Begitu pula cara kita memandang dampak Corona.

Bagi mereka yang menjadikan wabah global Corona Covid-19 sebagai alasan untuk menolak keberadaan Allah, saya mencoba untuk memahami mereka. Wabah seperti ini memang menimbulkan kesan bahwa dunia ini tidak teratur. Bencana terjadi di mana-mana tanpa bisa dikontrol. Jikalau Allah ada dan baik, Dia pasti akan melakukan sesuatu.

Terlihat masuk akal? Mungkin. Persoalan kejahatan (the problem of evil) memang salah satu sanggahan terberat bagi teisme. Hanya saja, apa yang masuk akal belum tentu benar. Mungkin ada kemungkinan lain yang jauh lebih masuk akal dan susah untuk ditentang.

Kalau pihak ateis memberikan the problem of evil sebagai sebuah keberatan, kita juga bisa memaparkan the problem of good sebagai jawaban. Mari kita melakukan perhitungan sederhana. Berapa wabah atau bencana alam yang terjadi dalam setahun? Jika dibandingkan dengan jumlah hari dalam setahun yang tanpa wabah atau bencana, bukankah angka keburukan itu terlihat jauh lebih kecil? Seandainya, misalnya, terjadi 12 kali wabah atau bencana dalam setahun sudah cukup untuk meyakinkan para ateis untuk menolak keberadaan Allah, bukankah 353 hari tanpa wabah/bencana lebih daripada cukup untuk meyakinkan mereka tentang keberadaan Allah?

Berapa banyak korban meninggal dunia dari virus ini? Cukup besar? Benar. Ribuan. Tapi, apakah ini cukup sebagai alasan untuk menolak Allah? Sama sekali tidak! Coba bandingkan angka kematian dengan angka kesembuhan. Coba bandingkan angka yang tertular dengan yang tidak. Jika angka penularan dan kematian dipakai sebagai alasan untuk menolak Allah, bukankah seharusnya angka kesehatan dan kesembuhan jauh lebih memadai untuk memikirkan sebaliknya?

Jika persebaran dan kematian dipahami sebagai tindakan diam (kelemahan atau ketidakberdayaan) Allah, bukankah solusi kesehatan terhadap dampak virus Corona seharusnya dipandang sebagai campur tangan Allah? Dari perspektif Kristen, poin ini sangat masuk akal. Allah menciptakan manusia sebagai gambar-Nya (Kej. 1:26-27). Penciptaan seperti ini membuat manusia memiliki kapasitas untuk mengembangkan kebudayaan (Kej. 4:21-22), termasuk teknologi medis. Dari persektif Kristen, kepandaian manusia untuk mengurangi persebaran dan melakukan perawatan yang tepat merupakan salah satu bentuk campur tangan Allah dalam kehidupan manusia.

Penjelasan di atas memang pada dirinya sendiri tidak membuktikan bahwa Allah ada. Bagaimanapun penjelasan tersebut berguna untuk menunjukkan kelemahan pandangan lawan. Mereka tidak konsisten menerapkan pemikiran mereka sendiri. The problem of evil hanya akan memiliki bobot persuasif yang besar jika pendukungnya mampu menjelaskan the problem of good tanpa menyalahi prinsip pemikiran mereka sendiri.

Dalam kekristenan keberadaan Allah dan penderitaan/kejahatan tidak bersifat eksklusif. Yang satu tidak meniadakan yang lain. Bisa sama-sama ada. Bisa dijelaskan secara masuk akal.

Dosa (dan akibatnya) bukanlah ciptaan Allah. Allah hanya menciptakan yang baik-baik saja (Kej. 1:4, 10, 12, 18, 21, 25, 31). Dia juga tidak pernah mencobai manusia untuk menjatuhkan mereka ke dalam dosa (Yak. 1:13-14).

Dosa adalah ketidakadaan kebaikan. Ketika manusia menolak apa yang baik dari Allah, di situlah dosa ada dan menjadi raja. Manusia telah menyalahgunakan kehendak bebas mereka. Sejak saat itu semua keburukan mulai hadir dalam dunia (Kej. 3). Jadi, pertanyaan tentang asal dosa bisa diterangkan secara konsisten dan masuk akal dari perspektif Kristen.

Sekarang mari kita menggali lebih dalam. Mungkin ada yang bertanya: “Mengapa Allah tidak meniadakan kejahatan dan penderitaan?” Jawabannya adalah “sudah”. Dia sudah memulai proyek pemusnahan. Inkarnasi Kristus ke dalam dunia menjadi bukti paling konkrit bagi keseriusan Allah dalam memberantas kejahatan dan penderitaan. Dia rela mengalami penderitaan dan dijadikan kambing hitam atas kejahatan manusia. Dia bukan hanya mengalami, tetapi juga mengalahkan kejahatan dan penderitaan. Kematian-Nya di atas kayu salib merupakan pukulan telak bagi sumber kejahatan dan penderitaan, yaitu Iblis.

Upaya pemberantasan tidak berhenti sampai di situ saja. Allah terus-menerus merembeskan nilai-nilai kerajaan-Nya di dalam dunia ini. Melalui Injil Yesus Kristus, Allah memanggil banyak orang pada kehidupan yang berkemenangan atas kejahatan dan penderitaan. Sudah sedemikian banyak kontribusi kekristenan bagi kesejahteraan dunia (baca Dinesh D’Souza, What’s So Great about Christianity?). Sulit membayangkan keadaan dunia sekarang ini jika orang-orang Kristen dulu tidak memainkan peranan mereka. Banyak hal yang baik di bidang hukum, HAM, kesehatan, dsb., berakar dari tradisi Kristen.

Kelak Allah akan meniadakan penderitaan dan kejahatan seluruhnya. Di langit dan bumi yang baru nanti tidak akan ada lagi dosa, derita, dan air mata (Why. 21:4). Itu akan menjadi jawaban tak terbantahkan dari Allah.

Mengapa Allah tidak menuntaskan proyek-Nya sekarang juga? Kita tidak tahu secara pasti. Paling tidak, kita bisa mengetahui dan meyakini bahwa Dia sedang mengupayakannya secara terus-menerus. Kita juga yakin bahwa jika waktu-Nya tiba, upaya ini akan berhasil seluruhnya.

Ajaran ini seharusnya membuat orang-orang Kristen mampu menyikapi wabah Corona dengan benar dan bijak. Di satu sisi, ketakutan (apalagi secara berlebihan) bukanlah pilihan. Di sisi lain, kecerobohan atas nama iman adalah kebodohan. Akal budi yang dibarui terus-menerus (Rm. 12:2) sudah cukup sebagai guru untuk menjaga diri sebaik mungkin. Jaga kesehatan diri sendiri. Sebisa mungkin jangan menjadi pembawa virus bagi orang lain. Di atas semuanya, marilah kita menghadapi pandemik ini dengan tenang dan optimis. Tuhan mengontrol segala sesuatu. Dia sudah mengalahkan penderitaan dan kematiaan. Soli Deo Gloria.

Artikel ini diunggah pertama kali pada 19 Maret 2020 di Facebook dan Instagram GRAMI.

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.