Gereja dan Wabah Covid-19:
Apakah Perjamuan Kudus Online Diizinkan?

Maret 29, 2020
Maret 29, 2020 gracealone

Imbauan (bahkan larangan) dari pemerintah untuk meniadakan perkumpulan (apalagi dalam jumlah besar) sudah ditaati oleh banyak gereja. Hanya beberapa gereja yang naif teologi dan kurang peduli dengan masyarakat yang masih bersikeras mengadakan ibadah konvensional. Puji Tuhan, semakin banyak gereja yang sekarang mulai mengadakan teleibadah atau membagikan liturgi berikut bahan khotbah untuk ibadah keluarga di rumah masing-masing.

Di balik ketaatan ini sebenarnya masih ada sebuah pertanyaan yang mengganjal. Bagaimana dengan sakramen perjamuan kudus? Apakah boleh diadakan secara teleibadah juga? Pertanyaan ini semakin banyak ditanyakan orang ke saya seiring dengan perayaan Jumat Agung yang semakin mendekat.
Ini adalah sebuah isu yang cukup rumit. Kita sudah terbiasa dengan suasana sakramen perjamuan kudus yang begitu khidmat dan agung di dalam sebuah gedung gereja. Bahkan dalam perayaan inilah hampir semua kekayaan tradisi ibadah Kristiani ditampilkan. Kini kita dipaksa untuk memikirkan ulang pelaksanaannya.

Secara pribadi saya tidak melihat ada kesalahan teologis (apalagi yang fatal) apabila sakramen ini dilakukan secara teleibadah. Gereja mungkin dapat mengirimkan roti dan anggur ke jemaat atau jemaat yang mengambil sendiri di gereja. Selanjutnya gereja dapat mengumumkan jam pelaksanaan sakramen secara teleibadah (via live streaming).

Ada beberapa pertimbangan yang mendorong saya untuk mengambil posisi ini (walaupun tidak ideal).

Pertama, sakramen merupakan sebuah simbol. Istilah “sakramen” (Latin sacramentum) berasal dari Bahasa Yunani mysterion, yang berarti “sesuatu yang tersembunyi kini dibukakan”. Yang terpenting bukanlah apa yang terlihat, tetapi makna di dalamnya. Sebagai contoh, pada saat Tuhan Yesus mengucapkan “Inilah tubuh-Ku” atau Inilah darah-Ku” pada perjamuan terakhir, murid-murid-Nya pasti menyadari bahwa roti dan anggur yang akan dibagikan hanyalah simbol. Bukan tubuh asli atau darah asli Tuhan Yesus yang waktu itu masih berada bersama mereka dan makan bersama mereka.
Walaupun demikian, menurut John Calvin, sakramen bukan hanya sekadar simbol (kontra Ulrich Zwingli). Melalui karya Roh Kudus selama pelaksanaan sakramen, orang-orang percaya menikmati persekutuan dengan Kristus sehingga spiritualitas mereka juga ditumbuhkan. Bukan tanpa alasan apabila Calvin beberapa kali menyebut sakramen dengan “makan rohani” (spiritual eating). Ada koneksi spiritual dalam taraf tertentu, walaupun itu tidak berarti bahwa tubuh dan darah Kristus hadir di atas, di dalam dan di bawah elemen roti dan anggur (kontra Martin Luther) atau roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus secara riil (kontra Roma Katholik). Jadi, Calvin lebih menekankan elemen roti dan anggur dibandingkan dengan Zwingli. Dia juga lebih menekankan aspek spiritual dari roti dan anggur melalui karya Roh Kudus dibandingkan dengan Luther dan Katholik.

Pertanyaan yang perlu direnungkan oleh gereja adalah ini: Apakah karya Roh Kudus dalam sakramen dapat dibatasi oleh jarak dan tempat? Jika kita meyakini bahwa Roh Kudus adalah Allah, maka Dia pasti Mahahadir, sehingga persekutuan orang percaya di dalam roh tidak dibatasi oleh tempat. Salah satu contohnya adalah persekutuan roh yang dibicarakan oleh Paulus dalam konteks disiplin gereja (1Kor. 5:3-5). Ketidakhadiran Paulus tidak mengurangi keabsahan dari praktek yang dilakukan.

Selama semua makna yang dilambangkan bisa tersampaikan melalui telesakramen, gereja sah-sah saja melakukannya. Dalam hal ini kita perlu memperjelas terlebih dahulu simbol-simbol apa yang ada di dalam sakramen. Yang terutama tentu saja, roti dan anggurnya. Dua hal ini elemen terpenting dalam sakramen perjamuan kudus (Luk. 22:14-22). Roti menyimbolkan tubuh Tuhan yang terpecah-pecah, sedangkan anggur darah Tuhan yang tercurah.

Elemen penting lain adalah kesatuan sebagai umat perjanjian. Darah melambangkan “perjanjian yang baru”. Bukan hanya antara umat dan Allah, tetapi antar sesama umat. Ada kesatuan fundamental antar sesama anggota tubuh Kristus yang sudah disediakan oleh Allah melalui Kristus (Ef. 4:4-6). Itulah sebabnya Paulus menegur praktek perjamuan kudus yang salah kaprah di jemaat Korintus (1Kor. 11:17-34). Beberapa jemaat yang kaya di sana tidak mempedulikan jemaat lain yang miskin. Ini jelas bertabrakan keras dengan esensi perjamuan kudus. Sakramen ini justru ingin menegaskan kesatuan umat perjanjian. Jangan sampai pelaksanaannya menimbulkan hasil yang kontraproduktif.

Jika gereja lokal tetap mengadakan ibadah bersama di gereja untuk merayakan sakramen, hal itu malah mungkin berseberangan dengan esensi sakramennya. Gereja kurang peduli dengan umat perjanjian, karena telah menempatkan mereka ke dalam bahaya. Wabah dengan cepat akan menyebar dan membunuh beberapa orang. Jika ini terjadi, gereja juga kurang menghargai karya Kristus yang sudah menebus tubuh kita dengan harga yang mahal dan secara lunas (1Kor. 6:19-20).

Kedua, praktek perjamuan kudus jemaat mula-mula berbeda dengan kebiasaan di banyak gereja sekarang. Ada banyak perbedaan yang bisa disebutkan di sini. Dari sisi tempat pelaksanaan, misalnya, gereja mula-mula melakukannya di rumah-rumah (Kis. 2:46 “memecahkan roti”). Dari sisi frekuensi, gereja mula-mula tampaknya melakukannya lebih sering daripada mayoritas gereja sekarang (Kis. 2:42). Dari sisi suasana kesakralan, praktek jemaat mula-mula sangat mungkin jauh lebih non-formal. Mereka memang setiap hari makan roti sebagai makanan pokok. Beberapa orang kaya juga memiliki persediaan anggur yang memadai. Berbagai catatan menunjukkan bahwa perjamuan kudus dahulu lebih ke arah makan-makan bersama (agape meal) daripada ritual khusus yang terlihat sangat formal dan kaku.

Kebiasaan di atas perlahan mengalami pergeseran. Aturan-aturan tertentu ditambahkan untuk memastikan bahwa pelaksanaannya sesuai Alkitab. Modifikasi ini akhirnya membuat sakramen perjamuan kudus (atau Jumat Agung/Paskah) menjadi semakin formal dan khidmat. Berbagai liturgi yang detil dan baku mulai diterapkan di gereja-gereja tertentu. Sampai sekarang tidak ada bukti bahwa satu aturan tertentu diterapkan ke semua gereja. Perbedaan penekanan dan cara tetap ada di banyak gereja di abad permulaan.

Jika jemaat mula-mula memang melakukan sakramen perjamuan kudus di rumah-rumah, tidak ada alasan bagi gereja-gereja sekarang untuk membatasi praktek itu dalam gedung gereja, terutama di tengah bahaya wabah virus Corona Covid-19. Inilah saatnya bagi gereja-gereja untuk memikirkan ulang kebiasaan mereka tanpa mengubah esensi yang ada. Detil-detil yang kurang esensial untuk sementara bisa diabaikan. Fokus saja pada yang benar-benar penting.

Apakah penjelasan di atas berarti bahwa pelaksanaan telesakramen bisa dilakukan dengan sembarangan? Tentu saja tidak! Beberapa esensi dan aturan penting dalam praktek sakramen tetap perlu diperhatikan. Berikut ini adalah beberapa usulan praktis sehubungan dengan pelaksanaan sakramen.

Pertama, sakramen harus disertai dengan pemberitaan firman. Tanpa firman (dan dalam konteks ibadah), roti dan anggur tidaklah berarti apa-apa. Keduanya hanyalah benda biasa. Sama seperti kalau seseorang lapar dan ingin makan – minum. Melalui firman Tuhan, pelayan sakramen mempunyai kesempatan untuk menjelaskan semua makna penting yang diajarkan melalui sakramen itu, tanpa dibatasi oleh simbol-simbol yang ada. Pada dasarnya, sakramen merupakan firman Tuhan yang divisualisasikan. Jika firman yang terkandung di dalamnya tidak ada atau tidak tertangkap, sakramen hanyalah sekadar ritual.

Kedua, sebisa mungkin ibadah dan telesakramen dilakukan secara live streaming. Pada waktu yang bersamaan, walaupun dibatasi oleh tempat. Hal ini bertujuan untuk menegaskan aspek kesatuan antara para pelayan sakramen (yaitu pendeta dan rohaniwan yang ditunjuk) dan seluruh jemaat. Seluruh jemaat sadar bahwa mereka sedang beribadah dan menikmati perjamuan kudus bersama dengan tubuh Kristus yang lain dengan dipimpin oleh pelayan sakramen.

Bagaimana jika sebuah gereja tidak memiliki kapasitas untuk melakukan live streaming? Ada beberapa opsi yang perlu dipertimbangkan. Seluruh ibadah bisa direkam sebelumnya, lalu diunggah di internet. Jemaat diberitahukan untuk beribadah bersama keluarga pada jam tertentu sambil menonton dan mengikuti ibadah yang sudah direkam tersebut. Namun, pada saat yang bersamaan, ibadah yang aktual juga tetap perlu dilaksanakan di dalam gedung gereja. Mungkin hanya diikuti oleh segelintir hamba Tuhan atau staf saja. Jika opsi ini diambil, pelaksanaan sakramen harus benar-benar dihindarkan dari semua resiko penularan.

Opsi lain adalah menggunakan fasilitas live dari beberapa aplikasi atau software, misalnya Facebook, Zoom, Instagram, Google Hangouts Meet, dsb. Memang kualitas audio dan video tidak mungkin sebagus live streaming, tetapi cara ini lebih bisa diakses banyak orang. Jika kualitas ingin diperbaiki, gereja bisa mempertimbangkan untuk membeli mikrofon dan kamera yang bagus. Biaya yang dikeluarkan pasti jauh lebih murah daripada melalui live streaming.

Opsi lain adalah melakukan sakramen sendiri dengan dipimpin oleh kepala keluarga. Dasar dari pilihan ini adalah keimaman seluruh orang percaya. Dengan bimbingan dan petunjuk liturgi yang jelas dari pimpinan gereja, setiap kepala keluarga diberi wewenang untuk menjalankan sendiri di rumah. Jika tidak ada anggota keluarga yang lain, yang bersangkutan bisa melakukan dalam kesendirian secara fisik tetapi kesatuan secara rohani. Dia meyakini bahwa dia tidak sendirian karena merupakan bagian dari seluruh tubuh Kristus.

Opsi yang terakhir adalah kunjungan ke rumah-rumah. Beberapa jemaat yang lanjut usia, tidak paham teknologi atau yang miskin mungkin membutuhkan cara ini. Usulan ini baru bisa dilakukan kalau jumlah jemaat benar-benar sedikit. Lagipula, hal ini membutuhkan protokol kesehatan yang jauh lebih ketat. Adalah bijaksana apabila gereja yang besar atau mampu secara finansial dapat melakukan live streaming, sedangkan gereja-gereja yang kurang mampu dapat mengupayakan opsi live dari aplikasi-aplikasi yang tersedia. Sebisa mungkin semua jenis perkumpulan dihindari dulu.

Ketiga, elemen roti dan anggur tetap digunakan. Sebagaimana Kristus menyediakan diri-Nya sebagai roti dan anggur, demikian pula gereja sebaiknya dan sebisa mungkin menyediakan roti dan anggur bagi jemaatnya. Teknis pengambilan atau pengiriman roti dan anggur dapat disesuaikan dengan keadaan jemaat masing-masing. Yang penting adalah “dari satu sumber lalu dibagikan kepada semua”. Yang perlu diingat, pada waktu mempersiapkan roti dan anggur, aturan kesehatan tetap harus diperhatikan dan diikuti, misalnya orang yang menyiapkan harus mencuci tangan terlebih dahulu, semua alat dan kemasan dibersihkan dengan sanitizer.

Jika gereja tidak mampu menyediakan karena satu atau lain hal, jemaat dapat swadaya menyediakan sendiri. Lebih bagus lagi kalau mereka berbagi roti dan anggur dengan anggota tubuh Kristus yang lain, sehingga makna kesatuan antar umat perjanjian semakin kentara. Mereka mungkin bisa menginformasikan kepada jemaat lain yang tidak bisa membuat atau membeli roti atau anggur.

Keempat, pada waktu pelaksanaan tidak boleh melupakan beberapa elemen liturgi atau makna sakramen yang penting. Beberapa yang perlu diperhatikan antara lain ucapan syukur, berita Injil, kesatuan umat perjanjian, dan pengharapan eskhatologis dalam Kristus (1Kor. 11:23-26). Juga jangan lupa mengingatkan jemaat untuk tetap menghormati sakramen walaupun dalam suasana yang lebih santai di rumah (1Kor. 11:27-31).

Setelah membaca penjelasan teologis dan tips praktis di atas, beberapa orang mungkin tetap menganggap telesakramen tidak boleh dilakukan. Jika sikap ini yang dipegang, maka hanya tersisa dua opsi saja: melakukan sakramen seperti biasa (tatap muka) atau tidak melakukan sama sekali.

Seperti yang sempat disinggung sebelumnya, opsi pertama akan membahayakan banyak umat Tuhan. Ini jelas bertentangan dengan esensi perjamuan kudus yang menekankan kesatuan dan kebaikan komunal seluruh umat Tuhan. Satu-satunya perkecualian untuk hal ini adalah kunjungan ke rumah-rumah. Inipun sebisa mungkin dihindari, karena membutuhkan waktu yang lebih banyak dan protokol kesehatan yang lebih ketat.

Apakah gereja sebaiknya tidak usah melakukan sakramen sama sekali? Saya secara pribadi menganggap sikap ini tidak bijaksana. Jemaat perlu didekatkan dengan Injil Yesus Kristus sesering mungkin. Mereka perlu diingatkan tentang pengharapan eskhatologis di dalam Kristus sesering mungkin. Jika telesakramen memang tidak menabrak firman Tuhan, mengapa kita menghindari sesuatu yang akan membawa banyak kebaikan bagi jemaat? Memang tidak ideal, tetapi tetap benar. Justru di tengah situasi yang sarat ketakutan dan kematian ini, jemaat perlu belajar firman Tuhan secara lebih visual, bahkan bisa diraba oleh tangan mereka. Bukan untuk menjadikan roti dan anggur sebagai jimat, tetapi sebagai sarana anugerah di dalam kelemahan mereka. Sama seperti John Calvin, saya sangat rindu sakramen perjamuan kudus dilakukan sesering mungkin. Ini adalah makan rohani yang menumbuhkan iman orang-orang Kristen.

Apakah setelah wabah ini berlalu maka sakramen tetap dapat dilakukan seperti sekarang? Jawaban saya: sebaiknya jangan. Situasi ini walaupun secara teologis dapat diterima, tetapi kurang ideal. Kebersamaan anggota tubuh Kristus secara fisik tetap menjadi elemen yang penting juga. Allah saja mau menjadi daging untuk mendapatkan manusia (Yoh. 1:14). Sebagai firman, Dia tidak hanya didengar, tetapi dilihat, diraba, dan dipegang (1Yoh. 1:1-3). Kehadiran Kristus secara ragawi di dunia memberi landasan kuat bagi kehadiran tubuh-Nya secara ragawi juga. Ada lebih banyak kebaikan rohani yang bisa dihasilkan melalui perjumpaan ragawi antar sesama tubuh Kristus. Soli Deo Gloria.

Ucapan terima kasih secara khusus saya berikan kepada dua sahabat dan mentor saya dalam hal ibadah, yaitu Jimmy Setiawan, M.T.S., dan Prof. Joas Adiprasetya, yang sudah membaca dan memberikan kritikan dan masukan berharga untuk artikel ini.

Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.

Tersedia juga di instagram GRAMI
Part 1 https://www.instagram.com/p/B-T_bYcB0eT/
Part 2 https://www.instagram.com/p/B-T_WnWhBu_/
Part 3 https://www.instagram.com/p/B-T_Olhhwd_/
Part 4 https://www.instagram.com/p/B-UhkgEhX0I/
Part 5 https://www.instagram.com/p/B-UhbgfBuvb/
Part 6 https://www.instagram.com/p/B-UhL99BnLK/

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.