Mengapa Yesus berkata "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"

April 2, 2021
Posted in Apologetika
April 2, 2021 gracealone

(Mat. 27:46; Mrk. 15:34)

Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

 

Ungkapan Yesus ini menjadi pertanyaan klasik, Jika Yesus adalah Allah mengapa Ia sendiri berseru pada Allah? Apakah Ia berbicara pada diri-Nya sendiri? Tentu tidak masuk akal, sudah pasti Yesus sedang berbicara kepada Bapa. Jika Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, bagaimana mungkin Ia ditinggalkan Allah? Wajar jika ungkapan Yesus ini menimbulkan pertanyaan. Bukankah Yesus sendiri berkata bahwa diri-Nya adalah satu dengan Bapa (Yoh. 10:30; Bdk. Yoh. 14:9)?

Sebenarnya teriakan, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” merupakan kutipan dari Mazmur 22 yang dengan sengaja dikutip Yesus. Mazmur 22 berisi sebuah ratapan tentang seorang yang tak bersalah namun alami penderitaan (ay. 1-20). Orang yang berteriak, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” bukanlah orang yang ditinggalkan Allah karena dosanya atau menjadi musuh Allah. Mengutip Mazmur ini, Yesus sedang menempatkan diri sebagai pihak yang tidak bersalah namun menderita.

Teriakan Mazmur ini juga merupakan sebuah ungkapan hati dari orang yang menantikan Tuhan, namun rasanya tak kunjung tiba, dan inilah yang dirasakan oleh Yesus: merasakan keterpisahan mendalam dengan Bapa karena mengambil posisi orang berdosa di kayu salib (2 Kor. 5:21), Ia mengantikan posisi manusia berdosa sehingga Ia harus alami penghukuman ini.

Tak kalah penting, Mazmur ini dimulai dengan ratapan namun diakhiri dengan kemenangan (Ay. 21-31). Ketika Yesus mengutip Mazmur ini, Ia pun tahu bahwa penderitaan dan kematian-Nya akan diakhiri dengan kemenangan, yaitu kebangkitan-Nya dari antara orang mati (Mat. 16:21-28; Mrk. 8:31-33; Luk. 9:22-27).

Teriakan Yesus ini juga menyatakan harga yang harus Ia bayar untuk menyelamatkan kita. Oleh karena pengorbanan-Nya di salib, tabir bait suci yang memisahkan ruang suci dan mahasuci terbelah menjadi dua. Inilah simbol bahwa batas pemisah antara Allah yang suci dan manusia yang berdosa telah dirobohkan. Oleh kematian-Nya, kita dapat kembali bersekutu dan bersatu dengan Allah (Yoh. 17:21-24; Gal 2:20). Kita tak lagi dihukum, penghukuman kita telah ditanggung oleh Yesus di salib, “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.” (Yes. 53:6; Bdk. 2 Kor. 5:21).

“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” bukan sekedar bernada pertanyaan, namun jeritan hati atas harga yang harus Ia bayar karena telah terpisah oleh Bapa yang sejak kekal selalu bersama dengan-Nya untuk dihukum mengantikan kita di momen salib, walau nanti Ia bangkit dan menang, momen itu adalah momen paling ngeri dalam kehidupan Yesus. Bagaimana respon kita? Mari kita bersyukur, karena tidak ada lagi penghukuman bagi kita dalam Kristus (Rm. 8:1). Dosa kita memang besar, tapi cinta Allah jauh lebih besar dari dosa-dosa kita; dan pengorbanan-Nya yang adalah bentuk cinta-Nya telah cukup untuk membebaskan kita dari semua penghukuman. Terpujilah Allah! Mari kita hidup selalu berkenan pada-Nya.

 

Artikel ini telah diunggah di Instagram Apologetika Indonesia:
https://www.instagram.com/p/CNKpUiChGIK/

, , , , , ,
Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.